TAKE ACTION! MAKE THE MIRACLE HAPPEN!
Tampilkan postingan dengan label Entrepreneur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Entrepreneur. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Januari 2015

Tips "Gila" Berbisnis Ala Bob Sadino (2)

6. Jangan bangga menjadi orang berada. Cobalah untuk melakoni bisnis dari bawah seperti Beliau

Melihat perjuangan seorang Bob Sadino kita pasti mengira bahwa beliau adalah anak dari orang yang kurang berada. Tapi sebenarnya beliau adalah pewaris dari salah satu keluarga yang cukup berada. Ketika kedua orang tuanya meninggal, Bob Sadino mewarisi seluruh kekayaan orang tuanya. Sebagai anak bungsu ia tidak menjadi anak yang manja. Memilih untuk berkelana ke berbagai negara di dunia dengan sebagian uang warisan yang ia dimilikinya.
Setelah 9 tahun bertahan dan bekerja di Belanda, ia kembali ke Indonesia dan melakoni berbagai usaha yang tidak kita bayangkan. Mulai dari menjadi pengusaha dan sopir Mobil Mercedes sewaan, tukang batu dengan upah minim, sampai menjadi seorang peternah ayam negeri.

7. Bukan tidak boleh kuliah, tapi jadikan kuliah hanya sebagai tempat mencari tahu bukan menjadi orang yang peka terhadap sekitar

Bagi seorang Bob Sadino, Teori adalah sebuah informasi basi. Berbagai seminar yang diberikannya, Bob dengan lantang mengatakan bahwa kuliah adalah sebuah kesia – siaan. Om Bos bahkan dengan keras mengatakan bahwa kuliah sama dengan memasukkan “sampah” ke otak kita.
“Kalau mahasiswa IPK nya sudah 3 koma itu alamat jadi karyawan saja lah. Kalau mau jadi pengusaha, IPK jeblok saja. Karena dengan begitu mau tak mau kamu akan ditolak perusahaan dan terpaksa membuka usaha sendiri.”
Beliau mengatakan ini bukan karena ingin mempengaruhi hal yang buruk. Tapi beliau mempelajari ini semua dari pengalaman yang beliau miliki. Baginya, pendidikan hanyalah tempat dimana semua orang pandai berbicara, tapi mencoba akan memberi pelajaran secara langsung pada kehidupan.

8. Jadilah pengusaha yang mencari dan mau gagal dan rugi. Karena untung dan berhasil itu hanya masalah keberuntungan

Kebanyakan calon pengusaha akan benar – benar merencanakan bisnis mereka sampai mereka yakin tidak akan mengalami gagal dan mendapatkan untung yang besar. Tapi bagi seorang Bob Sadino, sebuah kegagalan harus dicari dan dijemput. Ketika sebuah hukum ekonomi mengajarkan para mahasiswanya untuk meraih untung dalam bisnis, Bob justru menyarankan kita untuk mencari rugi.
“Orang sudah terlalu terbiasa berpikir secara linier. Kalau mau usaha, pasti mencari untung; mencari berhasil. Padahal dalam usaha itu ya pasti ada rugi dan gagal toh? Bagi kamu yang mau berhasil, justru cari kegagalan sebanyak-banyaknya. Sebab keberhasilan itu hanyalah sebuah titik di puncak gunung kegagalan.” – Bob Sadino, Belajar Goblok dari Bob Sadino.

9. Jangan jadi orang yang perhitungan. Lakukan saja!

Bisnis memang masalah uang, dan kita memang akan terus menghitung uang yang kita dapatkan. Tapi untuk menjadi seorang usaha jangan terlalu banyak perhitungan. Bagi Om Bob Sadino, sebuah usaha adalah tentang melakukan apa yang harus kita lakukan. Melakukan secepat yang bisa kita lakukan dengan sumber daya yang kita miliki.
“Kelemahan banyak orang adalah terlalu banyak mikir membuat rencana sehingga ia tidak segera melangkah. Padahal yang penting adalah action!”
“Kalau kita mencari untung duluan, usaha belum tentu dilakukan karena takut rugi. Tapi kalau mencari rugi, usaha pasti dilakukan karena ga takut untung.”
Jadi orang memang harus perhitungan, tapi untuk bisnis orang yang lebih “NEKAT” akan lebih mudah sukses ketimbang mereka yang terlalu ribet memperhitungkan langkah.

10. Dan pebisnis itu harus nyentrik!

Untuk urusan ini memang Om BOb ahlinya, Menjadi orang yang unik, asik, berbeda dan menjurus ke arah nyentrik adalah ciri khas Om Bob Sadino. Semua pengusaha mungkin harus memiliki prinsip yang satu ini. Bukan hanya soal penampilan, karena itu adalah pilihan. Tapi nyentrik disini adalah tentang cara dan sikap kita sebagai seorang pengusaha.
Mungkin bagi seorang Om Bob Sadino, berpenampilan seperti ini sudah menjadi sangat menarik dan dapat menimbulkan rasa hormat dari banyak orang. Karena selain pengusaha, beliau adalah guru bagi setiap orang yang ingin belajar menjadi pengusaha sukses. Tapi cobalah belajar “nyentrik” dari cara – cara om Bob memimpin dan mengembangkan usahanya.
“Saya tidak mau pengalaman dan pengetahuan yang saya miliki, terkubur bersama tubuh saya ketika mati kelak” Bob Sadino.

sumber : http://www.ciputraentrepreneurship.com/

Tips "Gila" Berbisnis Ala Bob Sadino (1)

1. Cobalah untuk melangkah tanpa memiliki tujuan. Lakukan dan lakukan saja apa yang kamu inginkan

Banyak orang yang tidak percaya bahwa seorang pengusaha sukses seperti Om Bob Sadino menjalani bisnisnya tanpa memiliki tujuan yang pasti. Dalam sebuah wawancara, ia mengaku bahwa dirinya tidak seperti pengusaha lain yang sibuk dan fokus membuat dan menetapkan target bisnisnya. Beliau lebih memilih untuk menjalani apa yang ia ingin lakukan.
“Dengan adanya tujuan, maka seseorang hanya tertuju pada satu titik yang namanya tujuan. Dia tidak akan berusaha untuk mendapatkan hasil yang melebihi titik tersebut. Padahal potensi setiap orang sangat mungkin melewati titik tersebut. Jadi sayang dong kemampuan saya, bila harus dipaku oleh tujuan.”
Beliau bukannya malas atau takut membuat sebuah target untuk bisnisnya. Tapi bagi Om Bob Sadino, target justru dianggap sebagai belenggu yang bisa menghalangi langkahnya untuk mencapai yang lebih dari sekedar yang ia inginkan.

2. Orang sukses seperti Om Bob Sadino tidak pernah menekankan rencana pada bisnisnya. Ia lebih menekankan prinsip “Mengalir saja”

“Rencana itu cuma berlaku buat mereka yang belajar manajemen. Dari A, B, C, D, sampai Z. Padahal dalam bisnis tidak ada yang seperti itu, bisnis tidak mungkin lurus dan runut saja. Tapi sayangnya di sekolah kita sudah terlalu sering diajarkan bikin rencana. Padahal rencana itu racun, bencana!” – Bob Sadino, Mereka Bilang Saya Gila
Seorang mantan karyawan di sebuah perusahaan pelayaran, Bob Sadino beralih haluan menjadi seorang pengusaha alias peternak ayam, dan ini semua tanpa “Rencana”.

3. Jangan pernah merasa lebih dari orang – orang disekitar kita. Menjalani hidup dengan sederhana membuat Om Bob Sadino lebih bahagia sebagai manusia

Bagi seorang Bob Sadino kesederhanaan adalah ciri khas dan bahkan prinsip yang terus ia junjung sampai akhir hayatnya. Memiliki lebih dari 1600 pegawai, perusahaan yang sudah sangat sukses di dalam dan luar negeri, rumah dengan luas hampir 2 hektar tidak membuat beliau menjadi orang yang sombong dan angkuh. Menjadi seorang yang sederhana membuatnya terlihat sangat istimewa dimata banyak orang yang amat mengidolakannya.
Baginya kini ia hanyalah seorang pengangguran.
“Saya hanya penganggur. Tapi saya bisa ekspor ribuan ton ke Jepang. Saya punya kemchick sebagai supermarket, kemfood untuk daging olah dan saya punya 1.600 orang yang bekerja di perusahaan saya. Mau ngapain lagi saya? Jadi saya nganggur.”

4. “Menjadi diri sendiri” itulah yang diajarkan oleh mendiang Bob Sadino kepada calon pengusaha

“Mending mana? Saya pakai celana pendek tapi beli pakai uang sendiri atau celana panjang tapi pakai uang rakyat? Hahahahaha.”
Itulah yang menjadi nilai lebih dari diri Beliau. Mampu menjadi diri sendiri dan tidak takut dikata berbeda bahkan gila oleh orang lain. Bagi pengusaha muda, beliau banyak mengajarkan untuk tidak terus menerus menjadi mesin fotocopy orang lain.
Melihat, mempelajari dan meniru memang perlu kita coba, tapi tidak ketika kita ingin sukses dalam hidup. Penampilan yang nyentrik membuat beliau sering mendapat teguran dari banyak pihak. Seperti ketika diundang ke acara resmi di gedung DPR, dan mendapat perlakuan tidak menyenangkan yaitu bentuk mengusiran beliau. Namun beliau tetap PD dan yakin dengan apa adanya diri beliau.
“Saya tidak pernah mau membagikan kunci sukses saya. Karena sekali lagi, semua itu ya mengalir saja. Lagipula kalau orang meniru saya, apa bedanya mereka dengan mesin fotokopi? Hina sekali jadi fotokopinya Bob Sadino. Kalau ada orang yang bertanya pada saya, saya bilang, “Ya jalankan saja. Alami saja pengalaman yang Anda alami.”

5. Berani mencoba, kunci keberhasilan Om Bob Sadino dalam menciptakan pasarnya sendiri

Seorang Bob Sadino bukan hanya orang yang sukses tanpa hambatan, bahkan cibiran dari orang sekitarnya. Ketika ia menjalani bisnis telur ayam negeri, ia bersaing sangat ketat dengan bisnis telur ayam kampung yang saat itu telah mendominasi pasar di Indonesia. Namun Bob tidak menyerah, ia berhasil menjual dan berbisnis telur ayam negeri dengan target pasar orang asing di sekitar Kemang.
Fasihnya Bob dan sang istri dalam berbahasa Inggris juga menjadi salah satu kemudahan yang membuat pelanggan ekspatriat mereka merasa nyaman. Gigih dan tekunnya beliau perlahan memuahkan keberhasilan. Contohnya saja Kemfood dan Kemchick yang bukan hanya sukses di usaha daging olahan saja. Tapi juga menjamah usaha sayuran holtikulura sebagai salah satu pengembang bisnisnya. Gila dan aneh, tapi Om Bob berhasil

sumber : http://www.ciputraentrepreneurship.com/

Rabu, 12 November 2014

WIRAUSAHA : 5 hal yang akan memaksa anda untuk berfikir positif

Menjadi Wirausaha atau Pengusaha banyak memberikan hal positif bagi hidup anda. Saya tidak berbicara mengenai besarnya pendapatan dan masalah materi lainnya, tapi efek positif yang akan anda dapatkan jika menjadi pengusaha, dan ini semua sifatnya memaksa anda untuk berubah. Tanpa anda sadari dan rencanakan, 5 hal dibawah ini akan anda alami sendiri.

1. Pemisahan uang pribadi dengan kas perusahaan
Jika tadinya anda menghitung keperluan hidup dari gaji, dan menyisihkan sebagian untuk tabungan, maka saat anda jadi Pengusaha, anda akan dipaksa memisahkan pendapatan dengan kas perusahaan. Karena tanpa pemisahan keuangan, maka usaha anda akan cepat gulung tikar. Anda akan berfikir ganda, uang pribadi untuk keperluan konsumsi, dan uang perusahaan untuk keperluan produksi. Pemisahan ini akan membuat hidup anda teratur dan bertanggung jawab.

2. Merubah pola pikir konsumtif ke produktif
Tanggal muda adalah tanggal konsumtif, biasanya seorang karyawan akan terlena dan bersenang-senang sehabis gajian. Tanpa terasa tengah bulan sudah pada habis. Pengusaha tidak mengenal tanggal muda. Setiap hasil yang diperoleh akan memacu semangat untuk meningkatkan produktiftas dan mengalihkan pendapatan ke modal usaha. Tentunya semakin banyak modal, maka semakin pesat usahanya, dan semakin banyak hasil yang didapatkan. Biasanya seorang pengusaha akan 'sayang' uang kalo banyak dibelanjakan untuk keperluan konsumtif, mereka akan berfikir lebih baik diarahkan ke modal usaha untuk meningkatkan penghasilan kedepan.

3. Berhati-hati dalam kredit/hutang
Jika tadinya anda mudah tergiur dengan kredit konsumtif, beli motor, furniture, dan lain sebagainya sebagai gaya hidup, maka saat anda jadi pengusaha, anda akan terpaksa berfikir ulang untuk ambil kredit konsumen. Pertama karena anda tidak gajian setiap bulan, kedua karena anda mempunyai opsi kredit usaha untuk meningkatkan bisnis. Kredit konsumen akan menghabiskan modal anda, sementara kredit usaha akan berguna mengembangkan bisnis anda.

4. Melatih tanggung jawab
Saat anda jadi karyawan, gaji anda untuk anda sendiri dan keluarga. Anda cukup bekerja dan bulan depan akan menerima gaji tanpa harus peduli dengan rekan anda dan kondisi perusahaan tempat anda bekerja. Jika jadi pengusaha, hal ini akan tampak beda. Anda bertanggung jawab menggerakkan perusahaan agar memperoleh keuntungan. Anda harus memikirkan nasib karyawan anda, client anda, dan supplier rekanan anda. Keputusan anda menentukan nasib berbagai pihak. Dan jika tadinya anda orang yang ragu2, saya jamin setelah jadi pengusaha, anda akan berubah menjadi seseorang yang tegas dalam mengambil keputusan. Jika tidak, siapkan tikar.

5. Berfikir taktis dan strategis
Jika karyawan dituntut untuk bekerja dengan baik secara konsisten, maka pengusaha dituntut untuk berfikir strategis secara dinamis. Perubahan ekonomi, sosial, dan politik berpengaruh ke bisnis anda. Aturan2 yang ada bisa mempersulit atau mempermudah usaha anda. Anda akan terpaksa belajar berbagai bidang untuk mendukung jalannya usaha. Yang tadinya mahir teknis, maka terpaksa belajar administrasi, pajak, akuntansi, marketting, pergudangan, dll. Semakin banyak pegalaman dan ilmu yang didapat, yang tadinya anda orang yang pasif dan nerimo, maka akan berubah menjadi orang yang aktif dan memiliki tekad kuat untuk maju.

sumber : andi micro

Jumat, 19 September 2014

How quitting my corporate job for my startup dream f*cked my life up

https://s2.yimg.com/bt/api/res/1.2/ua7WKF1JTvLi78D84H.d6A--/YXBwaWQ9eW5ld3M7cT04NTt3PTE5MA--/http://media.zenfs.com/id-ID/News/TechInAsiaID/pollows-266x400.jpeg
“Besok jam 5 pagi, penerbangan nomor AZ610 dari Roma ke New York.”

Sebuah SMS yang masuk di BlackBerry saya pada hari Minggu sore dulu selalu menjadi rutinitas yang menentukan di mana tujuan dan siapa klien saya untuk minggu mendatang.

Saya dulu bekerja di salah satu dari tiga perusahaan konsultasi strategi bisnis terbesar di dunia. Sebuah kehidupan di dalam sebuah koper. Sebuah kehidupan konsultasi dimana Anda ketinggalan update tentang segala sesuatu dan semua orang dalam hidup Anda, kecuali spreadsheet Excel. Sebuah pekerjaan impian yang, menurut sekolah-sekolah bisnis ternama, ideal.

Setelah beberapa jam tidur, supir pribadi membawa saya ke bandara Roma Fuimicino dimana saya akan melakukan perjalanan ke New York dengan penerbangan kelas bisnis yang mewah. Setelah tiba, saya akan check-in ke sebuah hotel bintang lima mewah dan menuju ke kantor klien saya setelah itu. Gaji? Luar biasa. Perusahaan tempat saya bekerja merasa bangga telah menjadi salah satu perusahaan bergaji tinggi di ranah konsultasi bisnis.

Orang tua
Namun, ada sesuatu yang salah dengan kehidupan konsultasi ini. Saya tidak tahan dengan segala kemewahan yang penuh dengan kepalsuan ini dan suatu hari menelepon orang tua saya:

"Ayah, Ibu, aku baru keluar dari pekerjaanku. Aku mau mendirikan startup sendiri."
 
Ibu saya hampir mengalami serangan jantung. Tentu saja kabar tersebut bukanlah hal yang ingin didengar oleh seorang ibu perfeksionis yang mendorong saya untuk lulus dari sekolah bisnis top dunia dengan nilai yang top pula.

Saya mencoba menenangkan beliau. Namun mustahil.

"Bu, aku benci pekerjaanku. Semua konsultan ini berpura-pura bahagia dan mereka mengkonsumsi pil kebahagiaan. Aku hanya bisa tidur 3-4 jam sehari. Semua keuntungan yang dijanjikan perusahaan tidak pernah ada. Hotel bintang lima mewah? Aku bekerja hampir 20 jam sehari dan aku bahkan tidak menikmatinya. Sarapan mewah? Kami tidak pernah punya waktu untuk itu. Makan siang dan makan malam mewah? Hanya sandwich di depan spreadsheet Excel kami."

Oh, ngomong-ngomong, bukannya menikmati segelas sampanye, aku malah memandangi spreadsheet selama penerbangan. Gaji tinggi? Aku tidak pernah punya waktu untuk menghabiskannya.
Aku benci kehidupanku, Bu. Seperti kehidupan para pecundang. Aku bahkan jarang melihat pacarku. Aku sudah tidak bisa membohongi diri lagi. Aku ingin memulai bisnisku sendiri.
Orang tua saya sudah pensiun dari pekerjaan rutin mereka sebagai PNS dengan dengan gaji yang aman namun membosankan. 
Datang dari keluarga yang tidak mempunyai latar belakang entrepreneurship, saya tahu bahwa sulit untuk menjelaskan situasi ini ke mereka. Namun, saya tidak menduga mendapatkan telepon keesokan harinya.

Ibu saya menelepon:

”Jaaadiii, bagaimana bisnismu?! Sudah tumbuh?!”

Tidak peduli apa yang saya katakan, saya tidak bisa menjelaskan kepadanya bahwa bisnis membutuhkan lebih dari satu hari untuk bertumbuh.

Pacar, teman dan lingkaran sosial

Saya memiliki pacar yang sangat mendukung saya. Sekarang saatnya memberitahu teman-teman saya yang tengah sibuk memanjat tangga karir mewah di dunia bisnis yang mewah pula. 
Saya memberitahu semua orang bahwa saya baru keluar dari pekerjaan untuk mewujudkan mimpi startup saya. Beberapa teman berangsur-angsur berhenti menemui saya, mungkin karena mereka berpikir ada sesuatu yang salah dengan saya, karena ini adalah pekerjaan “mewah” kedua yang saya tinggalkan dalam waktu singkat. 
Sedangkan teman-teman saya yang lain mendukung. Bagaimanapun, tampaknya masih ada sesuatu yang salah dengan hubungan kami: 
Saya segera sadar bahwa saya mulai menarik diri dari lingkaran sosial
Setiap kali saya bertemu dengan teman-teman, saya tidak memiliki banyak update untuk menjawab pertanyaan mereka yang itu-itu saja, seperti, “Jadi, bagaimana keadaan startup-mu? Kamu akan jadi Mark Zuckerberg berikutnya, kan?” “Oh man, kami sangat bangga padamu dan kami sangat yakin kamu akan segera menerima investasi besar.” 

Menjalankan sebuah startup adalah sebuah perjalanan panjang dan saya membuat diri saya tertekan dengan terlalu peduli terhadap apa yang dipikirkan orang lain. 
Hari demi hari, saya semakin merasa kesepian dan lebih depresi karena saya menghindari acara-acara sosial. Kemajuan startup saya tidak secepat yang dibayangkan lingkaran sosial saya. Dan saya sudah muak untuk memberitahu orang-orang bahwa butuh bertahun-tahun bagi startup untuk menjadi seperti Facebook dan Twitter. 
Satu-satunya tempat yang nyaman adalah berada di sekitar beberapa teman entrepreneur saya. Memang benar, hanya seorang entrepreneur yang bisa memahami seorang entrepeneur. 

Uang, uang, uang
Seolah tekanan sosial dan kesepian yang saya alami belum cukup, saya menghadapi “ibu dari semua tekanan”: uang habis lebih cepat dari yang saya bayangkan. 
Ini membunuh produktivitas dan kemampuan saya untuk membuat keputusan yang tepat. Saya panik dan ingin cepat-cepat menjadi sukses serta menghasilkan uang. 
Suatu hari, saya bahkan meminta uang receh kepada pacar saya karena saya tidak punya uang untuk membeli air mineral kemasan. Saya tidak tahu bahwa itu hanya awal dari sebuah kehidupan sulit yang penuh dengan pasang surut. 

Kini

Oke, cukup dengan drama menyedihkan tersebut: lebih dari dua tahun telah berlalu sejak masa-masa itu. Saya sekarang menulis artikel ini di sebuah resort yang indah di Phuket, Thailand, sambil menikmati mojito. 
Tunggu, saya tidak menjual mimpi. Tidak, saya belum menjadi seorang founder startup miliarder. 
Bagaimanapun, bisnis saya memiliki aliran uang yang konstan, yang memungkinkan saya untuk berkeliling dunia dan bekerja dari mana pun selama ada wifi.
Meskipun demikian, ada lima hal yang saya harap telah saya tanyakan pada diri saya sendiri sebelum memulai perjalanan yang menyakitkan ini. Lima pertanyaan yang saya yakin harus ditanyakan oleh setiap entrepreneur kepada dirinya sendiri sebelum terjun ke dunia entrepreneurship: 

1. Apakah Anda siap dengan tekanan sosial?

Jika Anda memiliki teman dan keluarga yang bukan entrepreneur, mereka tidak akan benar-benar memahami apa yang ingin Anda capai dan tekanan akan menjadi lebih tinggi.
Saya sangat peduli tentang apa yang orang lain pikirkan tentang saya, saking pedulinya hingga menghancurkan hidup saya. 
Saya begitu keras pada diri saya sendiri dan menghukum diri dengan lebih banyak pekerjaan sehingga saya bisa mengumumkan kesuksesan saya sesegera mungkin. Hingga akhirnya saya menyadari bahwa tidak ada yang peduli tentang saya. Jadi, kenapa saya harus peduli pendapat mereka? 
Anda tidak lebihnya ibarat sebuah status di Facebook yang hanya diperhatikan selama sesaat. Pada tahun 2014, tidak ada yang memiliki waktu untuk mempedulikan orang lain di dunia yang ramai ini. 
Jika Anda terlalu peduli tentang apa yang orang lain pikirkan, Anda akan menghabiskan waktu untuk membuktikan bahwa Anda sukses, alih-alih berfokus pada startup Anda.
Nikmati hidup Anda. Saya sendiri telat melakukannya. 

2. Apakah Anda single atau mempunyai pasangan yang sangat mendukung? 

Ketika dewasa, kita menghabiskan lebih banyak waktu kita dengan pasangan dibanding dengan teman atau keluarga. Meskipun saya beruntung memiliki pacar yang luar biasa, saya sedih melihat banyak teman entrepreneur putus dengan pacar mereka. 
Melakukan bisnis Anda sendiri adalah hal yang sulit – lebih sulit daripada yang saya bayangkan. Pikiran Anda akan terus-menerus kacau dengan sejuta hal dan tidak ada orang lain, termasuk pacar Anda, yang memahaminya. 

3. Apakah Anda memiliki uang yang cukup untuk bertahan setidaknya satu tahun? 

Jika ya, bagus. Kemudian kalikan jumlah itu setidaknya tiga kali lipat karena Anda akan kehabisan tabungan Anda lebih cepat dari yang Anda bayangkan. Sepanjang jalan, akan ada banyak biaya tak terduga, biaya akuntan, biaya untuk urusan legal, iPhone atau PC yang rusak, dan sebagainya. 
Bersiaplah untuk sebuah rumah kontrakan kecil, porsi makanan yang lebih sedikit, atau menghitung uang receh Anda, yang mungkin tidak pernah Anda pedulikan sebelumnya. 
Beberapa bulan sebelum Anda benar-benar kehabisan uang adalah masa yang sangat sulit, dan tekanan akan semakin berat hingga Anda tidak akan dapat tidur dengan nyenyak. 
Sukses akan datang dengan lambat, dan uang akan cepat habis. Anda harus cerdas untuk merencanakan semua hal dari hari pertama. 

4. Apakah Anda siap hanya tidur beberapa jam per hari? 

Setelah keluar dari dunia perusahaan konsultansi, saya berpikir akhirnya bisa mewujudkan mimpi saya dengan bekerja dimanapun saya mau – sampai akhirnya saya membaca kutipan dari Lori Greiner berikut:

"Entrepreneur rela bekerja 80 jam per minggu untuk menghindari bekerja 40 jam per minggu."

Semuanya dimulai dengan bangun di tengah malam. Pada awalnya, saya terlalu bersemangat tentang ide-ide saya yang begitu banyak. Saya tidak bisa menunggu sampai pagi tiba. Kemudian datang fase melebih-lebihkan. Saya bekerja terlalu banyak karena saya merasa tidak pernah cukup mengerjakan ide saya dan saya ingin berbuat lebih banyak lagi. Namun, semakin lama saya bekerja dan semakin larut saya tidur, saya semakin sulit tertidur dan semakin rendah kualitas tidur saya. Hasilnya, dua hingga tiga hari per minggu kinerja saya menjadi tidak produktif.
Jangan tertipu oleh berita investasi tentang founder startup yang menjadi miliarder. Ada cerita yang menyakitkan di balik itu semua, malam tanpa tidur, dan penolakan terus-menerus serta kegagalan. Perjalanan menuju kesuksesan sangatlah panjang, bahkan seringnya, terlalu panjang. 

5. Bagaimana Anda mendefinisikan sukses? 

Setiap orang memiliki daftar prioritas yang berbeda dalam hidup. Bagi kebanyakan orang, uang adalah prioritas nomor satu dalam daftar mereka, sementara yang lain lebih mementingkan keseimbangan kehidupan pribadi dan kerja. Akibatnya, setiap orang memiliki definisi sukses yang berbeda. 
Tergantung pada definisi sukses Anda, kesulitan perjalanan entrepreneurship Anda akan berbeda juga. Jika uang dan ketenaran adalah hal yang paling penting bagi Anda, perjalanan entrepreneurship Anda mungkin akan lebih sulit. 

Ingat kata-kata bijak Ernest Hemingway:

"Memang baik untuk memiliki akhir dari sebuah perjalanan; tapi pada akhirnya, perjalanannya lah yang penting."

Entrepreneur sukses tidak selalu orang-orang yang mendapat investasi jutaan dollar. Jangan lupa, mereka adalah satu dari sejuta. 
Bagaimanapun, ada ribuan pemimpi di luar sana yang berhasil menjalankan startup mereka secara bootstrapping atau hidup dengan baik secara mandiri, tapi bahkan mereka tidak diliput di berita teknologi. 

Tidak peduli seberapa kacau hidup Anda karena entrepreneurship atau sebera sulit nantinya, nikmati perjalanannya dan terus ikuti passion Anda. Seperti kata Tony Gaskin:

"Jika Anda tidak membangun mimpi Anda, seseorang akan mempekerjakan Anda untuk membangun mimpi mereka."

 Artikel ini pertama kali dirilis di Medium

 

Kamis, 30 Mei 2013

3 Syarat Jadi Pengusaha


Pertama: Berani meninggalkan zona nyaman

Setiap orang selalu merindukan zona nyaman. Mereka setengah mati berusaha meraihnya. Dan setibanya di zona tersebut mereka istirahat dan menikmati kenyamanan. Sayangnya, sebagian besar tertidur di zona itu, tak mau bergerak, sehingga tanpa sadar zona itu lama-lama tidak nyaman dan bahkan cenderung berbahaya. Dan ketika sadar, ia tak mampu lagi keluar dari zona nyaman dan - apa boleh buat - ia terjabak di sana selamanya.
Salah satu zona nyaman yang berbahaya bagi karyawan adalah gaji atau pendapatan yang tetap. Sedangkan bagi pengusaha adalah penguasaan pasar atau kestabilan perusahaan.
Nah, mereka yang berbakat jadi pengusaha adalah mereka yang tidak terjebak dalam zona nyaman. Bahkan mereka cenderung mencari tantangan untuk menciptakan zona nyaman baru. Mereka berani bertarung di pasar. Mereka berani menjual harta yang dimilikinya untuk memulai usaha
Ketika sudah jadi pun, mereka yang berjiwa pengusaha tidak berhenti. Mereka biasanya resah dan segera berusaha meninggalkan zona aman “bisnis sudah jadi”. Mereka terus berpacu untuk membesarkan usahanya. Uang mereka tidak dibiarkan menganggur di bank, reksanada dan sejenisnya. Mereka tumpahkan harta mereka untuk menciptakan peluang baru.

Kedua, Fokus.

Memang ada saja pengusaha yang sukses meski ia tidak fokus di bisnis terntentu. Meski demikian, setahu saya, lebih banyak pengusaha yang sukses karena fokus ketimbang yang kurang fokus. Bill Gates tutup mata bertahun-tahun sepanjang hidupnya hanya fokus di bisnis peranti lunak, dan dia menjadi orang terkaya di dunia13 tahun berturut-turut Fokus itu bertahun-tahun. Bukan cuma beberapa tahun. Apalagi beberapa bulan. Maka fokus di sini adalah fokus yang butuh kesadaran dan penuh passion.

Ketiga, Determinasi.

Pengusaha itu jatuh sekali, bangun dua kali. Jatuh dua kali, bangun tiga kali. Jatuh sepuluh kali, bangun sebelas kali, dan seterusnya. Sama seperti laba-laba membangun sarangnya. Ia terus menerus merajut sarang. Meski kena angin dan jatuh, ia kembali lagi meneruskan sarangnya agar jadi utuh. Jatuh lagi pun, ia kembali lagi. Seperti tak kenal lelah. Tak kenal kecewa. Tak kenal putus asa. Tak kenal mengeluh.
Mereka punya determinasi.
Tak kenal menyerah sebelum saatnya.